Selasa, 12 April 2016

you are the one, and only one



Hai laki-laki bajingan apakah kau sudah bisa melupakan dan menjauh  dari selir-selir mu itu? Mencoba untuk memulai sesuatu yang baik bersama kekasihmu. Menjauh dari hal-hal yang akan menyakitimu dan orang lain.
Yang kau fikirkan setiap saat hanya tentang penyesalan karena kau tidak pernah bisa mengaplikasikan perasaanmu itu, rasa sakit karena melihat selirmu menjalin kasih bersama laki-laki lain, perasaan yang tak kunjung reda yang entah karena hal apa tak bisa kau kendalikan, dan pengharapan-pengharapan tolol. Apakah kau tau yang sedang kau lakukan ini? Efek dari semua ini?
Kau lebih sering memberikan waktu, fikiranmu kepada selir-selirmu yang bukan milikmu dari pada kepada kekasihmu mu sendiri, dan tentu saja akhir yang kau dapat hanya sebuah kekecewaan. apakah ini sifat dari laki-laki yang menyukai hal yang bukan haknya? Yang menyukai tantangan dan rasa sakit? Entahlah, rasanya ini begitu tolol untuk dilihat.
Berapa banyak waktu yang telah kau gunakan hanya untuk memikirkan dan mengurusi selir-selir mu itu? Taukah bahwa waktu tak pernah berhenti dan kembali? tetapi yang kau lakukan hanya mengikuti kata hatimu, hanya melakukan apa yang ingin kau lakukan saja.
Begitu mengkhawatirkannya kehidupanmu yang diisi hanya dengan sebuah pengharapan-pengharapan tolol, kau tak pernah berfikir kedepan, berfikir tentang kebaikanmu dan kebaikan orang lain. Semua kekecewaan yang telah kau dapatkan pantas untuk kau dapatkan. Hidup tidak akan selalu seperti apa yang kau fikirkan dan harapkan tanpa sebuah usaha dan pengorbanan, dan tentunya apabila itu bukan merupakan hak mu kau tidak akan pernah mendapatkannya.
Usaha yang telah kau lakukan mungkin tak sebanding dengan apa yang kau dapatkan dan kau harapkan, tapi tak mengapa, setidaknya kau telah mencoba untuk kearah yang lebih baik, kearah yang semestinya kau lalui.
Step by step, new life has begun.
……
Belum cukup lama aku mengenalmu, hanya dari  sebuah tatapan dan senyuman kita menjalin kasih, banyak yang telah kita lewati hingga sampai pada titik ini, 4 tahun bukan waktu yang cukup lama untuk kita dapat saling mengenal kepribadian satu sama lain, kita sempat memulai cinta dan lalu mengakhirinya, dan saat ini kita memulainya kembali dengan tidak adanya suatu ikatan apapun didalamnya.
Kamu, kamu adalah kehidupanku sekarang, pemberi semangat dalam menjalani hari demi hari, pemberi motivasi untuk menggapai suatu hal. Meskipun jarak memisahkan kita tapi tak mengapa, itu hanya sebuah cerita didalam hubungan kita.
Tentang hubungan. Kita memang tidak terikat dalam sebuah hubungan pacaran, tidak seperti pasangan lain yang mempublikasikan hungungan mereka dan menjadikan nama pasangan di status bbm dan status hubungan di sosial media, kita memang tidak melakukannya. Dalam status umum kita memang bisa dibilang tidak memiliki hubungan atau jomblo, tetapi percayalah itu bukan sesuatu yang penting, bukan sesuatu yang harus diketahui oleh orang lain. Dalam sebuah hubungan yang terpenting bukan tentang dia, tetapi kita, aku dan kamu, sebuah komitmen dan kepercaan, ‘berpacaran’ itu tak lebih hanya sebuah nama, yang tak akan mengubah apapun itu.
Tentang jarak. Hanya sedikit yang berhasil dalam melewati tantangan ini, apakah kita dapat melewatinya? Meskipun sebagian banyak pasangan tidak bisa melewatinya, selama kita memiliki kepercayaan dan memegang komitmen kita, we can through it.
Tentang perasaanku. Tentang perasaanku yang masih ada pada wanita lain, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, selama kamu memberikan kepercayaanmu padaku, selama itu aku akan menjadikanmu wanita satu-satunya dihatiku. Dan tentang perasaanku padamu, haruslah kamu tau, meskipun tak pernah kuperlihatkan usahaku padamu, kamulah yang selalu aku usahakan. Tentang perasaanmu. Tentang perasaanmu kepada orang lain, aku tidak memperdulikannya. Tentang perasaanmu padaku, sebaiknya tak kau lakukan kesalahanmu dimasa lalu yang memberikan seluruh hatimu kepadaku.
Tentang masa lalu kita. Masalalumu, tentang bagaimana kamu sangat begitu mencintainya bagaimana kamu sulit untuk dapat melupakannya hingga pada saat ini, itu sangat terlihat dalam setiap tingkah laku dan bahasa tubuhmu yang kamu ekspresikan dalam setiap tulisanmu, aku tak mempermasalahkannya, bukan aku tak cemburu, kesal, dan marah, aku merasakan itu semua, merasakan hal yang tentu menyakitkan ketika kamu melakukan itu semua di media sosial dan curhatanmu, tapi percayalah aku sangat pintar dalam menyembunyikan perasaan hati. Aku tidak membencinya, mempersalahkannya, membicarakannya atau menyinggungnya, karena itu adalah perasaanmu, sesuatu yang tidak seharusnya diadili, sesuatu yang tidak seharusnya diacampur tangan oleh orang lain, sesuatu yang tidak bisa kita ubah atau diri sendirinya ubah, oleh karena itu biarkan semuanya mengalir, itu lebih baik, waktu yang akan memberikan jalan, menjawabnya, mengubah segalanya. Seiring berjalannya waktu aku akan menghilangkan perasaanmu darinya. Dan tentang masalaluku, aku sedang berusaha sepertimu.
Cinta adalah suatu reaksi kimia, gabungan feromin, endorphin, dan serotonin, setelah beberapa tahun zat-zat tersebut akan menghilang. Yaa, seiring berjalannya waktu cinta akan menghilang. Lalu kenapa kakek-nenek kita bisa bertahan hidup berdua sampai mereka meninggal? Karena pada saat cinta menghilang, mereka mempunyai sesuatu yang disebut kasih sayang, keterbiasaan, empati dan tentu saja komunikasi. Jadi, untukmu, entah sampai kapan aku bisa jatuh cinta padamu, entah sampai kapan kita akan selalu bersama, tapi aku bisa jamin “hidup akan baik-baik saja selama kita memiliki kita”.


Kamis, 24 Maret 2016

3 tahun


Oleh
 syiva habibie januar ramadhan

Kita telah bersama selama 3 tahun.
Tahun pertama aku tidak terlalu mengenalmu, barangkali mengobrol pun tidak pernah kurasa, walaupun selama satu tahun kita berada di satu kelas yang sama,yang ku ingat hanya panggilan nama, rupa wajah, dan tempat duduk dimana kamu berada di barisan kedua, bangku kedua dari sebelah kiri, dan duduk di sebelah kiri.
Tahun kedua kita tidak dipertemukan dalam satu kelas yang sama, kita memiliki cerita masing-masing, di tempat yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda, dan tentunya tidak ada aku dalam ceritamu, dan kamu di dalam cerita ku. Kita memiliki cerita kasih, tawa, asmara masing-masing yang tidak kamu ketahui atau aku ketahui.
Tahun ketiga, kita dipertemukan kembali. Ditengah semester pertama kamu masuk rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit semua orang di kelas akan menjengukmu bersama dengan wali kelas. Orang-orang di kelas sudah sepakat untuk menjengukmu sepulang sekolah. Siang sepulang sekolah semuanya telah berkumpul di pelataran sekolah, kepada yang lain aku meminta izin untuk pulang terlebih dahulu dan akan menyusul menggunakan motor, sesampainya dirumah langit memperlihatkan kesedihannya, hujan lebat tiba-tiba turun,  sampai sore hujan tak kunjung reda, terpaksa kuurungkan niatku untuk menjengukmu, maafkan aku.
 setengah tahun pertama telah terlewati, dan setengah tahun kedua akan dimulai. Tidak ada yang berubah diantara kita. Sekitar 5 bulan lagi kita bersama, kita akan keluar dari ruangan ini, mencari dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Di waktu yang singkat ini kita mulai bicara, entah kapan dan dimana itu dimulai, kita menjadi lebih sering bicara, dan bercanda. Perhatian demi perhatian mulai sering kita berikan satu sama lain, kenyamananpun mulai hadir dan kita rasakan.
Minggu ini akan diadakan try out, hari kedua setelah  try out ada jadwal pemotretan untuk dijadikan album kenangan, masing-masing kelas mempunyai tema untuk dijadikan cerita dalam album kenangan, tema dari kelas kita adalah perkebunan, kita diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu untuk membawa perlengkapan pemotretan, siang jam 2 kita berkumpul kembali di sekolah, tetapi sayangnya keadaan langit tidak begitu mendukung, rintik hujan mulai turun. Dengan memakai jaket manchester united warna hitam, jeans biru tua, dan kerudung paris ungu, syukurlah kamu sudah terlebih dulu datang. Jaket yang kamu kenakan, yaa, aku tau sang pemiliknya, dia adalah laki-laki dalam cerita asmaramu dari tahun kedua, mengetahuinya, entahlah, ini sangat membingungkan.
 Satu jam kemudian setelah hujan reda kita berangkat ke lokasi pemotretan di daerah cileungsing. Dalam cerita aku menjadi seorang pembeli, kamu menjadi seorang istri dari seorang petani, dengan mengenakan kebaya ungu, kain batik, dan kerudung paris ungu, betapa cantiknya kamu saat itu.
Seusai pemotretan kami semua pulang dengan melewati persawahan, dan perkebunan, masih ingatkah ditengah perjalanan kita sempat mengambil beberapa foto disebuah gubug di pinggiran sawah? bagiku itu menjadi salah satu kenangan indah di perkenalan kita.
Beberapa hari kemudian kita melaksanakan study tour ke plered, tempat pembuatan gerabah dan keramik dari tanah liat. Tak ada kenangan atau cerita aku dan kamu disana, hanya 3 buah foto diakhir perjalanan di tempat oleh-oleh khas plered, yang menjadi kenangan bahwa kita pernah kesana bersama-sama.
Kita pernah main bersama sebanyak dua kali, kali pertama bersama anak kelas ke lokasi pemandangan ujung aspal, saat itu akses kesana masih jalanan berbatu, dengan membawa motor yang tidak sesuai dengan ukuran badanmu, kamu tidak bisa menahan berat motor dan terjatuh, syukur saja hanya lecet dan tidak ada luka serius. Apakah kamu merasakan sentuhan itu? Aku begitu mengkhawatirkanmu.
 Kali kedua bersama beberapa teman main kita. Bahagia terus terang ketika aku mengajakmu keluar lewat pesan pendek yang kukirimkan dan dibalas dengan jawaban yang diharapkan, bersama-sama kita menuju ke beberapa tempat pemandangan di sekitaran wanayasa, awalnya tujuan kita CHR (ciater highland resort) tetapi karena hari sudah sore dan akan turun hujan tujuan utama dibatalkan.
Ujian nasional pun tiba. Dimana ini adalah langkah akhir dalam perjalanan masa putih biru kita, dimana esok tak akan kutemui setiap hari wajah yang ku sayangi itu, senyum yang menjadi bekal yang hanya akan didapat apabila masuk sekolah, dan sorot mata yang menyejukan di setiap pertemuan mata kita. Ketika ujian kita berada dalam satu ruangan yang sama karena nama kita yang berdekatan. Ketika mata ini saling bertemu kamu selalu memberikan senyuman itu, senyuman yang menjadikan kesan tersendiri dalam hati ini dan pengharapan bahwa dengan senyuman itu aku memiliki tempat tersendiri dalam hatimu,
Tiga hari telah berlalu, kelegaan dirasakan karena telah menyelesaikan persoalan terpenting di masa 3 tahun ini. Setelah ujian dilaksanakan tidak ada lagi kegiatan apapun disekolah untuk kelas 3, menjadikan kita semakin jarang bertemu dan bertegur sapa sampai pada hari acara perpisahan sekolah dimulai.
Pada hari acara perpisahan sekolah, kamu duduk di jajaran depan sesuai dengan absen kelas, karena aku yang terlambat datang aku duduk di barisan paling belakang. Acara perpisahan itu begitu brengsek, memang tidak menyebabkan keluarnya air mata tapi kesedihan, tentu saja. Semuanya terasa menjadi begitu sangat berharga setelah perpisahan sudah di ujung mata, entah itu kenangan buruk, baik, membahagiakan, menyedihkan, kesabaran, kekesalan, amarah, kebahagiaan, kesedihan, percintaan, persahabatan, pertemanan, tentang semuanya itu, menjadi sebuah hal yang akan dirindukan dan berat dilepaskan. Kita adalah manusia, yang mempunyai rasa penyesalan dalam hidup, di masa itu banyak sekali penyesalan yang dibuat, salah satunya dalam usaha memilikimu, yaa, tak kulakukan itu, tak pernah kucoba untuk menggapaimu. Setelah acara selesai, para siswa diperbolehkan untuk pulang, bersama teman laki-laki lain aku langsung menuju ke kelas dimana selama satu tahun pembelajaran terakhir kita lakukan. Kamu datang menyusul bersama teman wanita lain, raga dan hati ini terlalu canggung ketika kita bertemu, entah apa yang terjadi ketika saat itu aku hanya melewatimu. Aku melewatimu begitu saja tanpa ada kata ucap atau pisah, ataukah mungkin perpisahan ini yang membuat ucapan ini tak ingin dikeluarkan, entahlah, aku meninggalkan semuanya begitu saja. Teramat tolol memang laki-laki ini, padahal kita hanya sebatas teman, tapi kenapa semuanya terasa sulit untuk diucapkan dan dilakukan, padahal ini adalah hari terakhir dimana kita bersama.
3 hari kemudian kelas kami mengadakan perpisahan, disalah satu rumah teman kita. Malam sebelum acara perpisahan kita sempat berbalas-balas pesan singkat, kita membicarakan untuk keberangkatan besok, ku ajukan untuk berangkat bersama dan akan menjemputmu, dan kamu menyetujuinya, saat itu aku sama sekali tidak mengetahui dimana rumahmu, yang tentu saja aku mundar-mandir untuk mencarinya, akhirnya melalui pesan singkat kusuruh untuk menunggu di pinggir jalan, dengan memakai pakaian ungu warna kesukaanmu, jeans abu, kerudung, dan membawa jaket orange, aku menemukanmu, sosok yang begitu ingin aku miliki. jaket orange itu tak kamu kenakan, dan ketika kamu naik ke atas motor lengan jaket itu terkena oli rante motor, tapi itu merupakan kesalahanmu hehee. Sesampainya ditempat tujuan tidak semuanya hadir memang, tapi sebagian besar ada pada saat itu, dan turut juga kehadirannya wali kelas. Canda, tawa, menghiasi langit-langit rumah ini yang seakan-akan tidak adanya sebuah perpisahan setelah ini. Setelah makan nasi liwet dengan ditemani bakar ikan plus sambal kecap kita bercerita tentang tiga tahun kebelakang, dimana banyak sekali tawa didalamnya, begitu banyak cerita satu sama lain, tentang semua hal, tetapi ditengah itu semua ada peristiwa yang begitu indah dan tak mungkin terlupakan, ingatkah kamu?  Ketika semuanya sedang asik becerita aku meminjam sepeda teman kita dengan rangka sepeda warna merah tua, dengan setang berwana hitam, dan kedua ban yang sedikit kurang angin karena sudah jarangnya digunakan, ketika mengeluarkan sepeda kamu meminta untuk dibonceng, tentu saja mana mungkin aku menolaknya, kamu dibonceng didepan, peristiwa itu tentunya sangat indah, dan tidak akan pernah terlupakan. Kepala itu, kepala sang pemilik senyum mempesona itu sangat dekat sekali beberapa cm didepanku, apakah kamu merasakan degub jantung yang begitu berdebu-debu ini? walaupun diperjalanan kamu sempat membahas mantan kekasihmu yang rumahnya tak jauh dari sini, menyebalkan tentunya, kenapa di saat-saat seperti ini kamu membicarakannya, tapi tak mengapa, aku lebih bahagia dengan apa yang sedang terjadi apabila harus disandingkan dengan hal itu, itu sangat jauh. Itu menjadi salah satu kenangan terindah lagi bagiku di dalam perkenalan kita, apakah begitu juga denganmu?
Setelah itu aku melanjutkan sekolahku ke jenjang sma yang masih berada di wanayasa, sebagian besar dari smp wanayasa memang melanjutkan ke sma ini, jadi tidak terlalu canggung karena begitu banyak yang dikenal disekolah ini. Kamu menjutkan sekolah di luar kota. Apakah kamu baik-baik saja disana? Sering kudengar kamu disana sering mengalami sakit, entah dari mana informasi ini kudapat tapi aku sering mendengarnya. Perasaan ini entah apa namanya, setelah perpisahan ini semuanya terasa semakin jelas. Ketika kamu sedang online di facebook, dengan rasa canggung aku mencoba menanyakan kabarmu, kita menjadi sering chat untuk sekedar ngobrol, menanyakan keseharian, atau melayangkan perhatian.
Setahun kemudian, menginjak tahun ke dua, kamu pindah kesalah satu sekolah yang masih didaerah wanayasa, itu dikarenakan kesehatanmu yang sering drop. Walaupun tak sering kita masih suka bertukar kabar, lebih-lebih sekarang setelah kamu pegang handphone.
Akhir-akhir ini kamu sering becerita tentang laki-laki mu, taukah kamu setiap laki-laki yang menjadi kekasihmu atau sedang dekat dengamu membuat sakit dalam pengharapanku. Semua itu sempat membuat perlakuan ku terhadapmu menjadi sedikit menjauh dan mencoba tak perduli, tetapi sebagaimanapun aku mencoba melakukannya, aku selalu kalah. Wajarkah tentang sikapku ini terhadapmu? Maafkan aku, aku baru menyadarinya beberapa saat kemudian tentang ketololan sikapku ini.
Laki-laki yang berada dikisahmu kali ini selalu membuatmu kecewa dan menangis, dengan alasan dialah orang yang pertama kali kamu suka dan cinta pertamamu kamu mempertahankannya, bukan karena perasaan yang ada pada diriku untukmu yang menyuruhmu untuk meninggalkan dia, tapi semata-mata hanya demi untuk kebaikanmu.
Laki-laki itupun akhirnya kamu tinggalkan, entah kapan itu, tapi itu sangat melegakan karena tidak akan ada lagi kesedihan yang dia timbulkan terhadapmu. Dan beberapa saat kemudian kamu memiliki laki-laki lain, dia adalah kaka kelas dua tahun di atasku, dia laki-laki baik, dan dari keluarga baik, aku sedikit mengenalnya. Dengan laki-laki ini kamu begitu serasi dan begitu sangat bahagia, hati ini sedih, bukan karena aku tak ingin melihatmu bahagia, tapi mungkin karena bukan aku yang membahagiakanmu.
Kamu masuk rumah sakit lagi, entah karena apa. Dihari kedua kamu dirawat, bersama seorang temanku aku menjengukmu. Setelah menanyakan keberadaanmu lewat sms, aku langsung menuju keruanganmu, setelah berada didepan ruanganmu suatu hal ketololan terjadi, jantung ini berdegub kencang entah karena apa, beberapa saat sebelum masuk keruanganmu, aku pun meminjam tangan temanku dan meletakannya didada ini, dia keheranan dan bertanya dengan apa yang tengah terjadi kepadaku, akupun tak tau dengan apa yang tengah terjadi kepadaku. Dengan memberanikan diri kucoba menepiskan semua hal itu, disana ada kedua orang tuamu dan adikmu, yang untung saja tidak ada kekasihmu. Tidak banyak yang aku lakukan didalam, hanya menanyakan keadaan, keseharian, dan kesehatanmu, seterusnya kami hanya saling diam. Perkataan ini keluar sendirinya dari mulut ini yang bertanya sudahkah kekasihmu menjengukmu? Kamu menjawab sudah, sebanyak tiga kali. Yaa, dia memang laki-laki yang pantas untuk bersamamu. Hanya sekitar 20 menit didalam, dan tak ingin kegugupan ini lebih lama dirasakan aku berpamitan untuk pulang.
Mengungkapkan perasaan pernah kita lakukan satu sama lain, tapi sepertinya kamu hanya mengaggap perasaan dan perkataanku hanya sebuah candaan. Meskipun kamu pernah mengungkapkan hal itu, tapi kamu tidak pernah memberikan kesempatan untukku menggapaimu. Sakit dan terluka tentu saja, tapi itu bukan alasan untuk aku meninggalkanmu. 
Dia adalah laki-laki baik, dan memperlihatkan kesungguhannya, dia dapat melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan, yaa, aku tidak mengkhawatirkanmu, karena kamu berada di sisi laki-laki yang bisa menjagamu dan melindungumu. Karena belum tentu kamu sebahagia dan mendapatkan perhatian ini apabila denganku. Menyayangi bukan berarti memiliki apa yang kita sayangi, tetapi sesuatu yang terbaik yang mesti dia miliki adalah kesungguhan. Jangan pernah libatkan keegoisan dalam suatu perasaan, itu tidak baik, dan memiliki tentu saja bukan segalanya.
Aku menyayangimu dalam diamku, mengasihimu dalam kesendirianku, mencintaimu dengan kebisuanku. Berbahagialah dengannya, setulusnya yang terbaik adalah melihat orang yang kita sayang bahagia walaupun kebahgiannya bukan bersama kita, walaupun hati ini sangat ingin memilikinya dan ada sedikit rasa sedih, tapi itu tidak pantas untuk di bandingkan dengan kebahagian seseorang.
Allah memiliki skenario jalan hidup yang berbeda-beda untuk setiap orang, dan mungkin inilah yang Allah jalankan untukku tentang bagaimana jalanku dalam menyayangimu.
Berbahagialah kasih, dan jangan menjadi seorang wanita yang menyedihkan, aku tak ingin melihatnya, sehatlah selalu, jalanilah hidup sebaik dan sebahagia mungkin.


“Tak kusesali, cintaku untukmu
Meskipun dirimu tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari-hariku
Aku telah meragu mengapa harus dirimu

Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu
Sungguh ku tak menahan bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku
Selamanya..

Kadang aku lelah menantimu
Pastikan cinta untukku

Menuliskan dirimu memang bukan untukku
Selamanya..”

Rio febrian-bukan untukku


Tertanda,

 dirimu yang kurindukan J

Senin, 14 Desember 2015

“Aku, Kamu, Dia, Cinta Monyet?”



PERINGATAN!!!
“Sebaiknya tidak kalian baca cerpen ini, karena cerpen ini tidak menarik dan bisa dibilang biasa saja. Untuk orang-orang yang tidak mempunyai perasaan yang mendalam terhadap suatu hal, cerpen ini tidak cocok untuk anda. Ini adalah cerpen yang menceritakan tentang sebuah kisah perjalanan asmara seorang laki-laki  dengan dua wanita yang menurutnya sangat-sangat sekali berarti dalam memberi warna di dalam kehidupannya. Karena cerita ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu, jadi maaf sekali karena akan terasa sangat simpel dalam penceritaannya, karena sedikit banyak yang penulis lupa tentang kejadian-kejadian dimasa lalu, dan nama tokoh-tokoh yang berada didalam cerita telah disamarkan. Baiklah mari kita mengulas kembali memori ingatan dimasa lalu yang selalu berhasil membuat tersenyum ketika mengingatnya. It’s my story”

“Aku, Kamu, Dia,  Cinta Monyet?”
Karya : Syiva Habibie Januar Ramadhan

Cerita ini dimulai ketika negara api berhasil mengalahkan negara air, hehehee bercanda. Aku adalah sesosok laki-laki yang memiliki matabelo, hidung mancung, rambut lurus, fostur tubuh yang atletis, memiliki kulit yang eksotik, sesosok laki-laki pujaan hati bagi para kaum hawa, yang mempunyai kemaskulinan, keharmonisan, dan senyum yang mempesona, seorang bintang lapangan dan idol sekolah, mengagumkan bukan? Itulah aku dan itulah doa-doa yang selalu aku panjatkan setiap sesudah sholat, hehee. Itulah sebagian kebohongan kecil yang sedikit besar dariku.
 Oke, Cerita ini dimulai ketika menginjak masa SMP, tepatnya ketika menginjak kelas 8 SMP atau kelas 2, setelah setahun lalu menjadi super duper junior yang selalu bisa jadi barang becandaan kakak-kakak kelas. Hari dimana aku menjadi kelas 2 pertama kali akhirnya datang juga, pertama kali masuk sekolah tujuan pertama adalah mading yang menempelkan daftaran nama-nama siswa kelas 8 yang telah diacak dari siswa-siwi ketika dikelas 7. Setelah membaca dengan saksama ternyata nama Syiva Habibie Januar Ramadhan berada di kelas 8D. tidak terlalu susah untuk mengakrabkan dengan teman-teman baru ini karena di kelas 7 kami sudah saling mengenal, dan berdoa semoga saja dikelas yang baru ini yang sebagian banyak siswa ketika kelas 7 tidak sekelas dapat terjalin keharmonisan, keakraban, kekeluargaan agar dalam pembelajaran yang diberikan dapat dipahami dengan sempurna.
ada sesuatu yang lebih menyenangkan, dan ini adalah awal dimana kehidupan es abadi selama ini berubah menjadi kehidupan yang menghangatkan (ceeileeh hehee).
Hari pertama sekolah seperti biasa tidak banyak guru yang masuk, kalaupun masuk pasti hanya untuk berkenalan, dan seminggu ini hanya perkenalanlah yang kami lakukan, ya, itu sangat menyebalkan dan membosankan tentunya, karena pada dasarnya kami sudah saling kenal satu sama lain.
Beberapa minggu ini tidak ada yang spesial yang dapat diceritakan sampai pada akhirnya sang pembawa perubahan datang kepada sang pujangga kesepian. Entah bagaimana perkenalan awal kita dimulai, tetapi itu merupakan awal yang sangat berarti sekali tentunya karena itu adalah awal dari perjalanan kasih ini.
Sosok itu adalah dia, dia yang memiliki perawakan tinggi, berkulit putih, bermata sayu, yang siapapun melihatnya akan merasakan kenyamanan didalamnya, sang pemilik senyum mempesona yang dapat melelehkan hati para kaum adam, sedikit acuh, berhijab, yang menjadikan dia semakin terlihat luar biasa dengan kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Ya, dia yang memiliki kesempurnaan itu yang menjadikan dia sosok wanita incaran seperdelapan laki-laki disekolah kami, dia adalah Nindia.
Semenjak perkenalan yang entah bagaimana itu kita sering menyapa, bercerita dan memberi canda. Indah rasanya, terlalu indah mungkin sampai pada saat ini ketika mengingatnya selalu memunculkan senyum. Kita bertukar nomor handphone, dan semuanya terasa semakin menyenangkan karena hubungan kita semakin dekat dan semakin akrab, dan ditambah kita sering melakukan perhatian satu sama lain entah itu menanyakan kesehatan, keseharian, makan, tidur, dan lain sabagainya.
Beberapa minggu berselang tidak ada yang berubah, tetapi tentang kedekatan kita tentunya itu semakin dekat, perasaan kita semakin kuat satu sama lain, tetapi entah kebodohan apa atau hal apa yang mulut ini tidak kuasa untuk menyatakan perasaan dan mencoba untuk memilikinya, apabila hati ini bisa bicara mungkin hati ini telah berontak  kepadanya. Dan dia pun mungkin sedang menunggu untuk diberi kejelasan tentang hubungan ini, hingga pada suatu hari meteor pun jatuh di tengah padang bunga yang sedang bermekaran, temanku yang bernama Aki memberitahu tentang ketertarikannya kepada Nindia, ya, tentu saja dia bicara kepadaku tentang perasaannya, karena dia tidak mengetahui kedekatan dan perasaan ku kepada Nindia selama ini, mungkin karena kita berbeda kelas.
Hingga beberapa hari berselang aku memutuskan untuk berhenti dalam menggapai bintang perubahan ku, karena aku sangat menghargai perasaan Aki temanku, itu sangat tidak apa-apa bagiku pada awalnya. Alasan macam apa itu, begitu bodohnya sang laki-laki ini melepaskan apa yang tidak seharusnya dilepaskan dan laki-laki lakukan.
Dan beberapa hari ini komunikasi dengan Nindia tentunya berhenti, seperti malam yang kehilangan bintangnya, seperti itulah diriku saat ini. Dikelas pun  aku sudah tidak lagi becanda, atapun bercerita, dan kalaupun bertemu hanya melemparkan senyum. Mungkin dia merasakan perubahan yang terjadi, hingga suatu siang ketika istirahat dia bertanya langsung kepadaku.
Nindia        : sekarang kamu beda, kenapa?
Aku            : beda gimana?  
Nindia        : yaa berubah, kaya yang lagi ngejauh?
Aku            : engga ndi
Nindia        : terus kenapa, ceritalah, biasanya juga ceritakan kalo ada apa-apa
Aku            : apa yang mesti di ceritain coba? kalo iya ada, masa cerita ke orang yang dijadiin topik pembicaraannya sih heheee
Nindia        : yeeee kamumah, seriusan kenapa!!!
Aku            : iya nanti ya kalo lagi moodnya udah baikan jan-jan cerita
Nindia        : janji looh??
Aku            : iyaa cantik J
Nindia        : J , kamu udah makan? Aku bawa bekal banyakan nih, sengaja buat kita makan berdua, makan yaa, kalo engga jangan pernah ngedeketin aku lagi.
Aku            : wheeeiiisss galak amatan non, siapa juga yang bakalan nolak, kasian lagi kamu pasti udah cape udah susah nyiapin ini semua, kamu sayang yaa sama aku heheee
Nindia        : gr wlee, yaudah yu makan
Aku            : hajaaaaarr
Nindia        : makan yang banyak ya?
Aku            : siap 86 non, kamu juga J
Nindia        : siap pak bos J


Untuk menjauh dari seseorang yang kita suka dan sayang ternyata sangat susah, seberapa keras kita mencoba untuk melupakannya apabila dia setiap hari bisa kita lihat, itu terasa mustahil.
Hingga pada suatu hari ditaman kesendirian bunga-bungapun bermekaran, hari dimana sekolah sedang mengadakan perlombaan bulan bahasa. Dari kelas 8D hanya beberapa orang yang menjadi perwakilan untuk berpartisifasi dalam masing-masing perlombaan yang diadakan tapi untuk perlombaan ini laki-laki dekalas 8D tidak ada yang ikut serta dalam perlombaan, hanya anak perempuan yang menjadi perwakilan. Setiap perlombaan tempatnya terpisah dan berbeda-beda tempat, ada yang di dalam ruangan dan ada yang didalam ruangan. Aku dengan beberapa teman sekelas menonton perlombaan membaca puisi yang bertempat di depan sekolah, karena cuaca sangat panas kami duduk di depan pos satpam, tidak ada yang menarik pada saat itu sampai pada suatu ketika munculah kesejukan di tengah teriknya matahari siang, sesosok yang begitu cantik, manis, putih, dan imut. Dari pakaian yang dikenakannya yaitu memakai rompi osis dia pasti salah satu anggota pengurus osis yang menjadi panitia dalam lomba bulan bahasa, ini adalah pertama kalinya aku melihat dia. Aku terus saja memperhatikan dia yang menjadi pembawa acara lomba membaca puisi yang pada akhirnya dia menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikannya, mata kami pun saling bertemu beberapa saat, dan terus terjadi hingga beberapa kali, dan dia tersenyum.
Siapakah gerangan wanita yang memiliki senyum mempesona itu?
 Itu adalah salah satu momen yang paling membahagiakan didalam kehidupanku. Acara bulan bahasapun selesai, acaranya sangat berkesan sekali, teramat sangat sekali.
Beberapa hari pun berlalu.
Facebook adalah salah satu yang paling sangat digandrungi anak remaja pada saat itu. Ketika sedang asik melihat notifikasi di beranda betapa kagetnya muncullah gambar seseorang yang wajahnya sudah familiar di ingatan ini. Yaa, itu dia, sang pemilik senyum mempesona. kulihat halaman profilnya status dan koleksi fotonya, dari beberapa status yang dibuatnya baru-baru ini terlihat dalam statusnya dia sedang merasakan kebahagian yang ditimbulkan oleh suatu hal yang baru dia temui, dia cantik, terlihat dari beberapa koleksi fotonya. Dan tanpa disengaja jari-jari inipun menekan pilihan suka pada beberapa status dan foto pada akun facebook nya.
Keesokan harinya ketika membuka facebook terdapat pesan dari pemilik senyum mempesona, dia adalah sevi, dia kaka kelas setahun diatasku. Dalam pesannya dia berkata terimakasih telah menyukai status dan foto-fotonya. Mulai dari situ kami sering dan semakin sering mengobrol dan berbicara entah itu di facebook, sms, atau telphone, karena kami sebelumnya telah bertukar nomer handphone.
Hingga pada suatu hari beberapa minggu berselang, tepatnya 3 bulan setelah perkenalan  kami, dengan perasaan yang dagdigdug, aku mengutarakan apa yang dirasa dan meminta untuk menjadi kekasihnya kepada sevi pada tanggal 5 desember, dengan jawaban yang begitu lama akhirnya sevi menjawab pertanyaan itu, dan, yaaa, sungguh melegakan, dan tentunya bahagia sekali, sevi menjawab dengan jawaban anggukan terlebih dahulu dan berkata “iyaa, aku mau jadi  pacar kamu”. Merdeka yang dirasakan hati ini pada saat itu.
Hubungan dengan sevi pun semakin dekat, dan romantis, jam menjelang jam, hari menjelang hari, minggu menjelang minggu, dan bulan menjelang bulan kami lewati dengan dibumbui tawa, canda, keceriaan, pertengkaran, kami lewati dengan suka cita. Ujian kenaikan kelaspun telah datang, aku naik kekelas 9C, bergabung kembali dengan orang-orang ketika dikelas 7, dan sevi meneruskan ke SMA, tetapi hubungan kami baik-baik saja tentunya.
Dia wanita yang mempunyai segalanya, sholehah, berkerudung, pintar, dia masuk di 5 besar juara umum, cantik, putih, imut, memiliki senyum yang menawan, dia memiliki segalanya, aku bahagia bersamanya. Cuman hanya satu yang kurang, pada kala itu dia belum bisa memasak.
 Berbeda dengan hubunganku dengan sevi, hubungan ku dengan Nindia tidak begitu baik, mungkin karena kami sudah tidak sekelas lagi yang menjadikan hubungan kami semakin jauh. Dia marah dan sakit hati karena hubungan yang ku jalin bersama sevi. Hampir setiap malam pada beberapa waktu selalu ada yang menelphone tentang betapa sakitnya yang dirasakan Nindina tentang semua ini, adik nindia, aku tahu dialah yang selalu memarahiku, ketika mendengar adiknya marah-marah aku selalu tersenyum karena dia masih sekolah di sekolah dasar, tapi jujur pada waktu itu semuanya terasa berat, entah itu karena apa alasannya.
 Sevi selalu marah dan cemburu akibat perlakuan ku kepada nindia, dia mengetahui segalanya entah dari mana. Hubungan ku dengan sevi baik-baik saja hingga pada suatu saat meteor garden jatuh ke bumi. Aku adalah salah satu pengurus osis pada saat itu, dan sevi sudah lengser dari jabatannya, aku dipanggil oleh Pembina osis bersama sebagian pengurus lainnya ke ruang BP. Yang dipanggil adalah pengurus yang memiliki pacar, kami dimarahi oleh Pembina osis karena kami sebagai pengurus osis memberikan contoh yang tidak baik kepada yang lainnya dengan mempunyai pacar, disekolah kami memang dilarang untuk mempunyai pacar, dan disitu kami disuruh untuk membuat surat perjanjian, dan akan memutuskan pacar kami.
Sepulangnya sekolah aku langsung memberitahu sevi tentang semuanya, sevi menangis tentunya, karena hubungan kami harus berakhir disini, setelah diberi penjelasan akhirnya sevi pun bisa menerima semuanya dengan perjanjian satusama lain akan menunggu dan tidak akan berpaling kepada orang lain sampai aku lulus nanti.
Pada awalnya kami baik-baik saja, hingga suatu ketika aku mendengar bahwa sevi telah berpacaran dengan kakak kelasnya yang entah siapa, yaa, sevi telah melanggarnya. Mulai dari situ kepercayaanku kepada sevi mulai menurun.
Bagaimana dengan nindia? Dia telah menjalin kasih dengan sahabatku dan setelah itu
dengan adik kelas setahun dibawahku. Meskipun beberapa waktu lalu hubungan kami tidak baik, tapi sekarang kami cukup akrab kembali hanya untuk bertukar kabar. Entah mengapa walaupun perasaan itu telah lama terjadi, timbul rasa sakit yang diakibatkan oleh hubungan nindia, rasa sakit yang hanya bisa dipendam tanpa ada orang lain yang mengetahuinya. Tapi tak mengapa, karena aku harus merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh nindia dulu.
Beberapa minggu berselang, sevi mulai menghubungiku lagi setelah sekian lama kami tak berkomunikasi, tapi entah mengapa perasaanku kepada sevi terasa biasa saja, mungkin perasaan ini hilang bersama dengan kepercayaan yang telah kuberikan kepadanya.
Pada akhirnya pada malam tahun baru kami pun menjalin hubungan kembali, dengan pemikiran mungkin perasaan itu akan timbul kembali ketika kita bersama-sama lagi. Tapi ternyata semua itu salah, tidak ada yang berubah, perasaanku telah hilang. Dan hubungan ini pun harus berakhir kembali dengan sebuah tangisan sevi.
Aku pun lulus dari SMP, selamat tinggal putih biru, dan selamat datang putih abu.
Tidak seperti dengan perasaanku, kehidupanku tidak sama menyedihkannya. Karena keluarga dan teman yang membuat lupa akan segala kesedihan yang sedang dialami.
Hubungan asmara pun telah dimulai kembali setelah menginjak bangku SMA, aku berpacaran berganti-ganti wanita dengan beberapa wanita disekolahku. Bagaimana dengan sevi dan andini? Setelah berakhirnya hubunganku dengan sevi aku tidak mendengar dia sedang membina hubungan dengan laki-laki lain. Dengan andini, dia meneruskan sekolahnya ke luar jawa.
Waktu cepat berlalu, aku naik ke kelas 11, dengan komunikasi yang bisa dibilang sering walaupun kadang beberapa hari sekali, aku dekat kembali dengan nindia, sekita hamper sebulan kita dekat kembali, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ku kepada nindia, tetapi dia tidak memberikan jawaban langsung, yaa, perasaanku lemah sekali pada saat itu, perasaan ini khawatir karena dulu pernah mengecewakan perasaannya, dan semua rasa penyesalan timbul kembali.
Akhirnya seminggu berselang nindia kembali menghubungiku, sekian lama kunanti jawaban, dia memberikan jawaban, dengan berkata dia bersedia, semua kebahagiaan pun terluapkan, seperti menemukan gunung emas, perasaan ini begitu sangat sekali bahagia, mungkin setelah sekian lama baru kali ini bisa memilikinya.

Hari-hari setelah itu, kami sangat sekali romantis, begitu senang, penuh dengan canda, tawa, dan sama sekali tidak ada pertengkaran. Karena saat itu pada waktu liburan semester, akhirnya waktu masuk sekolahpun dimulai kembali, ternyata waktu cepat berlalu. Nindia harus kembali lagi berangkat keluar jawa, karena sekolahnya tidak mengizinkan untuk membawa alat komunikasi, akhirnya seperjalanan nindia ke luar jawa kami terus saja berhubungan, sedih rasanya ditinggalkan oleh kekasih yang baru saja merajut kasih tetapi harus dipisahkan kembali oleh sang jarak dan waktu.
Beberapa hari berselang kami tidak bertukar kabar, rindu rasanya hati ini. Dan tidak disangka-sangka pada suatu ketika ada pesan facebook masuk yang mengatakan hubungan aku dan nindia harus berakhir, DEG, jantung, perasaan, darah ini terguncang seketika, entah itu siapa yang jelas itu bukan nindia tapi dia menggunakan akun facebook nindia, dia mengaku sebagai ibunya. Sedih, tentu saja sedih karena hubungan kami baru beberapa minggu, dan terlebih hubungan ini sangat dinantikan beberapa tahun lalu. Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan ini, ego dan gengsi kukesampingkan terlebih dahulu demi menyelamatkan hubungan ini, tapi ternyata hubungan ini sudah tak bisa lagi diselamatkan. Setelah itu semua terjadi kami sudah tidak lagi berkomunikasi hingga pada saat ini.
Lalu bagaimana kabarnya denga sevi? Dia menjalin hubungan dengan laki-laki lain setahun kemudian setelah perpisahan kami. Hubungan mereka sangat romantis sekali sama seperti ketika bersama ku, membuat orang lain yang melihat dan mengetahui hubungan mereka iri.
Selepas berakhirnya hubungan dengan nindia, rasa sedih yang dirasakan hanya beberapa hari, aneh sekali rasanya. Dan sebuah tanda tanya besar timbul, apakah saat ini perasaan kepada nindia adalah sebuah perasaan yang seperti dulu ketika SMP, atau hanya sebuah obsesi untuk mendapatkan dia? obsesi dan perasaan ternyata sulit untuk dibedakan.
Setahun kemudian, aku naik ke kelas XII, hari-hari ku telah jauh dari perasaan wanita, bukan berarti tidak suka, tapi masih belum waktunya, hari-hariku dihabiskan bersama keluarga dan teman. Yaa, sangat lebih menyenangkan ternyata.
Hingga pada suatu saat kudengar hubungan sevi dengan kekasihnya mulai merenggang dan sering putus nyambung. Hubunganku dengan sevi baik-baik saja pada waktu ini, kami menjadi teman selepas beberapa bulan setelah kami berpisah, dan mungkin dikarenakan waktu yang berlalu juga.
Hubungan merekapun  kandas, perasaan sevi hancur dan teramat sakit karena sevi sangat sekali menyayanginya. Di situ aku merasa kasihan dan tak tega melihat sevi yuang seperti itu dan mencoba untuk menghibur, memberikan waktu untuk dia bercerita, dia banyak bercerita dan mencurahkan isi hatinya. Alasan demi alasan aku berikan untuk memberikannya semangat, agar dia bisa bangkit dari keterpurukannya, tapi tidak semudah itu, sangat sulit sekali mebuatnya bangun.
Hubungan kamipun dekat kembali, dan sedikit demi sedikit dia telah melupakan laki-laki itu. Entah apa yang terjadi, kenyamanan dan perasaan itu datang kembali kepada kami. Agar tidak mengulangi kesalahan yang lalu, saat ini aku sedang mencoba kearah sana, dan semoga saja ini adalah awal yang baik bagi kami kembali. Untuk kamu, aku akan berusaha menggapaimu kembali.





Catatan

“..simpanlah kepercayaan seseorang, karena untuk mendapatkannya kembali teramat sulit..”

“..simpanlah sebagian perasaan kita, dan jangan berikan perasaan sepenuhnya, agar ketika mendapatkan luka tidak terlalu sakit..”













THANK YOU..

my shine sun

20 agustus 2016 ternyata bukan pertama kali aku melihatmu... 20 agustus 2016 14:27 ketika perayaan ulang tahun purwakarta yang ke 185 ...